Pages

Ads 468x60px

Selasa, 24 Maret 2015

Tentang karakter tokoh dalam mini novel “Amplop Sahabat.” [Coming Soon]

Diego, pemilik bola mata cokelat muda yang memiliki banyak bakat. Pelukis asbtrak yang sangat menikmati ketenangan air. Lelaki muda antisosial yang dikagumi banyak gadis. Tidak mudah berinteraksi dengan sekeliling namun keberadaannya selalu menarik perhatian. Tubuhnya jangkung dengan rambut cepaknya yang selalu acak-acakan tidak pernah meninggalkan kesan misterius dalam dirinya. Senyumnya yang mempesona selalu berhasil membuat detak jantung para gadis meloncat begitu tinggi, tak heran dia memiliki lesung pipit dan sederet gigi putih yang selalu dia pamerkan. Polos kala berbicara, sehingga membuat orang disekitarnya mudah tertawa. Kulit putih nan bersih yang dimiliki lelaki ini selalu membuat iri kaum remaja seusianya. Pianis yang mampu membius ribuan orang ketika dia mulai menggerakkan jemarinya dengan lincah di atas deretan tuts hitam-putih yang berjejer rapi. Penikmat Americano coffee dan musik Mozart yang mampu menyabet gelar penyendiri diantara lelaki pada umumnya. Tidak pernah bosan dengan kesendirian, padahal dia mampu menghidupkan suasana ketika bersama orang lain. Dalam hidupnya dia selalu terjebak dalam pertemanan semu, karena itulah dia lebih memilih sendiri dan tidak berkawan daripada harus memakai topeng. Tapi hal ini tidak berlaku ketika dia bersama gadis unik yang mampu mengerti setiap saat.
Riana, calon psikolog muda yang sangat mengagumi senja. Hampir setiap sore ia menghabiskan waktunya di Wonderland hanya untuk menikmati senja bersama anak-anak kecil yang bermain di tempat itu. Penyuka keramaian yang selalu menyendiri, jauh dari kesepian. Salah satu alasannya adalah untuk mengamati orang-orang di sekitarnya, kegiatan yang paling ia gemari. Gadis yang suka mengurai rambut sebahunya ini jago dalam hal pengintaian dan membaca ekspresi orang lain. Perawakannya mungil dengan kulit kuning langsatnya yang mampu memukau para lelaki di sekitarnya. Penikmat Matcha Green Tea Latte yang berjiwa sosial tinggi ini memiliki tatapan mata yang hangat dan bersahabat. Tidak terkecuali, gadis ini memiliki level simpati yang amat tinggi, skala 8.5 dari 10. Paling suka mendengarkan orang lain berceloteh ria, itulah kenapa dia bekerja sebagai penyiar di salah satu stasiun radio ternama. Terobsesi dengan Daniel Keyes dan karya-karyanya karena itu ia memilih terjun di bidang psikologi. Untuk masalah pertemanan dia mampu berkawan dengan siapa saja, namun untuk menemukan sosok yang dia percaya bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Hingga dia disadarkan dengan kehadiran seseorang yang menggantungkan kepercayaan padanya.
@peres_arin

Senin, 23 Maret 2015

Selamat datang, agen baru ^^

Jangan anggap ini sebagai persaingan, kawan. Mari kita berbagi perspektive. Setidaknya biarkan aku belajar dari sudut pandangmu. Mengenai hidup, kedamaian, hobi, sisi gelap dan segala warna yg terpancar dari semangatmu. Ah aku lupa, bukankah dunia kita sama?
Berkawanlah tanpa persaingan, kawan. Sungguh takjub aku bertemu dengan sosok yg hampir sama seperti diriku, pantulan cermin setelah kedua lelaki terhebatku, dia dan ayahku. Kau ada di urutan ke sekian, tapi aku bersyukur kita dipertemukan dan berbagi cerita.
Kawan, mari kita sama-sama belajar melalui dunia yg tak tampak berbeda ini. Kebetulan yg tidak disesalkan, aku harap begitu.
Aku bukan musuhmu, juga bukan sainganmu. Selamat bersahabat kawan, dan selamat datang di dunia ilusi yg menjadikannya nyata. Mari berkarya bersama!

Tertanda, yg kau panggil Peres.

Minggu, 08 Maret 2015

Bukan disesalkan, hanya saja mengapa waktu berjalan begitu cepat. Aku rasa dewasa bukan hanya membutuhkan persiapan, melainkan kemauan. Ah, membayangkan saja sudah cukup mengerikan haha

Sabtu, 28 Februari 2015

We've all been hurt by words before. Termasuk pujian dan kritikan. Kalo kata Kak Bernard Batubara sih, "Jawablah kritikan dengan karya." :)
Dan yang lebih mengena itu, bahkan pujian yang terus menerus lebih membahayakan daripada kritik yang tajam (nulisbuku, 2015).
Jadiii lebih baik menerima kritik yang pedas demi membangun kualitas diri yang lebih baik dan alangkah istimewanya jika dibumbuhi dengan pujian yang tulus dan sekadarnya, bukan mengada-ada lho ya atau cuma bikin orang lain impressed dengan tanggapan kita, wah itu salah besar.
Ingat, mereka yang memujimu bisa saja menjatuhkanmu dari belakang. Dan seperti kata Kak Dofir, pembimbing team PKM, "Lebih baik dijatuhin sejatuh-jatuhnya di awal jadi waktu sudah sampai puncak kalian akan jadi yang terhebat, dan strong!"

Kamis, 26 Februari 2015

This is why I shouldn't get on social media, I see things that ruin my day...
Kinda hurts but whatever, thought it was pretty obvious...

Rabu, 25 Februari 2015

You don't understand they won't let me come back. If I go out there, I'm stuck.

Setelah aku tau, ternyata persaingan teramat ketat. Ada begitu banyak tuntutan dari masing-masing individu, pencapaian besar yang diharap-harapkan, sehingga berbagai macam cara dilakukan untuk survive di atas persaingan itu sendiri. Iya, hal ini sering terjadi. Ketika harapan sudah benar-benar disusun rapi dalam kotak keambisiusan dan berpikir bahwa semua akan berjalan sesuai rencana. Namun tidakkah kita ingat bahwa di sana akan selalu ada pengintai yang ingin membuka kunci kotak keambisiusan kita. Pencuri? Penghancur? Entahlah... Hingga pada akhirnya kita memahami bahwa kita membutuhkan pelindung besi yang menyelubungi kotak tersebut. Namun tidakkah kita ingat bahwa setiap manusia memiliki akal? Demi membuka dan mengambil kotak tersebut...
Setelah tau bahwa harapan-harapan kita perlahan sirna dan persaingan semakin menyakitkan. Setelah mengerti bahwa kotak keambisiusan kita diambil orang lain, apa yang kita rasakan? Kecewa? Marah? Ikhlas? Benci? Hancur? Aku harap itu hanya emosi belaka yang tidak berdampak untuk harapan-harapan dikemudian hari...
Jujur saja, aku merasa kecewa dengan persaingan yang tidak terduga ini. Aku tidak menyebutnya sebagai pencuri, hanya saja aku sangatlah bodoh. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Ketika pengkhianatan terjadi di depan mata, kamu hanya mampu melihat dan "Hei, bisa-bisanya kamu melakukan hal ini padaku?" dan kekecewaan tidak membuahkan hasil.
Sebuah populasi dengan banyak individu di dalamnya. Apa yang terjadi? Persaingan.
Sebuah tim dengan banyak harapan yang berjejer rapi. Apa yang terjadi? Yakin kekompakan? Bagaimana jika terjadi persaingan dan pengkhianatan di dalamnya?
Seberapa banyak usaha untuk menyatukan individu-individu di suatu populasi namun jika kepercayaan sudah mulai pudar, apa kita akan memaksa? Dan jika aku boleh mengartikan, paksaan yang telah terinterupsi dengan banyak tekanan dan kepercayaan yang telah sirna termasuk tindakan kriminal. Bukankah setiap manusia memiliki hak untuk menciptakan harapan-harapan mereka, lalu mengapa dipaksa dengan persaingan yang berujung pengkhianatan? Percayalah, bahwa kecewa itu menguatkan.
Di setiap persaingan akan selalu ada harapan baru yang terbentuk dan kita harus bisa survive dengan persaingan yang "bersih", sehingga kesempatan dan pencapaian akan menghampiri dengan sendirinya.

Minggu, 15 Februari 2015

Kesempatan

Teruntuk, kesempatan.

Bukan sekedar keinginan
Bukan sekedar angan
Tolong, datanglah
Belum cukup usaha
Belum cukup untaian doa
Tolong, bantulah

Datanglah padaku, kesempatan
Dimana aku bisa menjumpaimu?
Untuk sekali saja
Jangan menyuruhku untuk membelimu
Maka aku akan membayarmu dengan usaha dan ketulusan
Jangan menyuruhku untuk membelimu
Karena uang akan terasa sia-sia bagiku

Dengan banyak tumpukan dan tumpuan
Aku mengandalkanmu, kesempatan
Sekali ini saja, datanglah padaku
Aku harus membantu mereka

Bahkan untuk menunggu kesempatan
Mengapa teramat menyakitkan
Tolong...
Aku menggantungkan hidupku untukmu, kesempatan
Demi mereka

Tertanda, yang menantikan momentum

Sabtu, 14 Februari 2015

Untukmu yang (kurasa) kukenal

Teruntuk, kau yang diam-diam (masih) mendoakannya.

Hai, ini aku. Kau pasti mengenalku bukan? Ah tidak.. kata mengenal seperti terasa asing bagi kita. Aku mengetahuimu semenjak kita menduduki tahun kedua di SMA, dan aku lebih ‘merasa’ mengenalmu ketika salah seorang kenalanku berbicara banyak tentangmu. Setelah kutangkap ternyata kalian adalah teman dekat di kelas yang sama, Bahasa.
Entah mengapa di hari ke 14 bulan Februari ini suratku tertuju padamu. Ah iya, tepat di hari Valentine. Haha ini bukan suatu kesengajaan, hanya saja aku ingin menuliskannya. Apa itu berarti kau termasuk orang yang kukasihi? Ya semoga... aku ingin bersahabat denganmu, bertukar ide dengan beberapa kesamaan dalam diri kita.
Jadi begini, kebiasaan burukku yang sudah menjadikannya candu terulang kembali. Membuka salah satu akun media sosial lalu aku menemukan sesuatu yang menarik rasa penasaranku. Benar-benar keterlaluan bukan? Hehe, tapi aku beruntung rasa penasaranku ini berujung padamu.
 
Blogger Templates